
Rawon Nguling yang awalnya terletak di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan pada tahun 1942 bernama Depot Lumayan. Menu yang disukai pelanggan di Depot Lumayan ini adalah nasi rawon. Karena lokasi depot yang berada di Kecamatan Nguling dan kemudian pelanggan yang datang banyak menyebut Depot Lumayan sebagai Rawon Nguling, sehingga trade mark Rawon Nguling sudah melekat kuat di Depot Lumayan itu. Di Nguling sendiri tulisan Depot Lumayan masih ada hanya pelanggan sudah familiar dengan nama Rawon Nguling.
Rawon Nguling yang didirikan oleh mbah Lik tahun 1942 itu sekarang sudah memiliki lima cabang di Surabaya, satu di Jakarta dan satu di Malang. Ibu Sri yang merupakan adik dari Mbah Lik yang usia antara mereka berdua terpaut jauh. Mbah Lik yang nomor 2 dan Ibu Sri yang nomor 10 dari 11 bersaudara. Ibu Sri yang sekarang masih sehat dan sudah berusia 70 tahun ini dahulu menikah dengan seorang tentara kemudian pindah mengikuti suaminya ke Malang pada tahun 1983.
Pindah ke kota Malang Ibu Sri dan keluarga menempati sebuah rumah di jalan Lembang. Dengan berpindahnya Ibu Sri ke kota Malang sekalian membuka cabang Rawon Nguling di kota ini. Sedangkan untuk depot Rawon Nguling dipinjami tempat oleh seorang teman ibu Sri dengan menempati ruang ganti sebuah gedung kesenian yang bernama Gedung Kesenian Wijaya Kusuma dekat alun-alun kota Malang. Dan di tahun itulah Rawon Nguling mulai membuka cabang tepatnya di ruang ganti Gedung Kesenian Wijaya Kusuma di jalan Zainul Arifin no 62, Malang hingga sekarang.
Gedung kesenian yang sudah tidak digunakan tersebut kemudian dipugar tahun 1984 dan dibeli oleh Ibu Sri. Sampai saat ini tidak begitu terlihat keberadaan bekas gedung kesenian, sebagian yang dapat dilihat sekarang ini adalah bekas ruang ganti Gedung Kesenian Wijaya Kusuma yang sekarang menjadi depot Rawon Nguling.
2. Cara Memasak Rawon Nguling Yang Lezat
Rawon Nguling di Malang sejak tahun 1983 masih eksis hingga sekarang dipimpin langsung oeh Ibu Sri. Ibu Sri sendiri yang langsung mengontrol pembuatan bumbu semua menu masakan dibantu anak perempuan dan karyawannya yang berjumlah 20 orang. Depot Rawon Nguling yang buka dari jam 7 pagi sampai dengan jam 15.30 menyediakan aneka masakan khas Jawa Timur. Pengunjung yang ingin sarapan maupun makan siang dapat memilih dan menikmati menu hidangan di depot ini.
Di depot untuk produksi rawon sendiri dilakukan setiap hari. Dahulu memasak rawon masih menggunakan kayu bakar, tetapi sekarang sudah dengan cara modern menggunakan kompor dan gas. Proses pembuatan rawon dari dahulu sampai sekarang masih sama. Bukan dengan cara memasak rawon kemudian diinapkan, tetapi kompor menyala terus menerus mulai dari jam 3 sore sampai jam 12 malam menggunakan api besar. Kemudian dilanjutkan sampai jam 3 pagi menggunakan api sedang. Kemudian dilanjutkan memasak dengan menggunakan api kecil sampai jam 5 pagi dan pada jam 7 pagi depot pun dibuka untuk menerima pengunjung yang ingin sarapan.
Ibu Sri sangat menjaga sekali keaslian resep menu masakan di Rawon Nguling. Beliau tidak pernah melakukan modifikasi resep tetapi masih tetap menggunakan resep warisan yang terdiri dari rempah-rempah dan kluwek yang segar supaya didapat kuah rawon yang lezat khususnya untuk menu nasi rawon.
3. Menu di Rawon Nguling
Di Rawon Nguling, selain menu andalannya nasi rawon, juga menyediakan menu lain khas daerah Jawa Timur. Seperti rawon tutup dengkul, rawon buntut, nasi gule kambing, lodeh pecel, nasi pecel, nasi lodeh, dll. Nasi rawon dengan harga Rp35.000 sudah mendapat seporsi nasi dan semangkuk rawon yang dilengkapi dengan sambal dan taoge. Kuahnya yang tidak terlalu hitam dan pekat serta potongan dagingnya yang besar dan empuk serta rasanya yang gurih lezat membuat saya sangat menikmati Rawon Nguling siang itu. Ditambah dengan lauk pelengkap seperti tempe, mendol, perkedel, empal, paru, babat, otak, limpa yang disediakan dalam piring tersendiri makin menambah istimewa menu di depot Rawon Nguling. Pelengkap lain seperti kerupuk yang dapat dipilih antara lain kerupuk udang atau kerupuk ikan.

