Rabu, 30 Januari 2019

Nuansa Vintage di RM Ayam Kremes Potre Koneng di Malang

Suatu siang yang mendung di Malang, Ebo Dyah yang lagi nganggur menghubungi Bu'e. Bu'e ini adalah Bu Erny temannya Ebo Dyah. Yang Ebo Dyah jumpai di suatu grup Whatsapp dan ternyata Bu'e ini teman lama 10 tahun yang lalu. Ceritanya panjang deh, sepanjang kisah hidupku #eaa Dan sudah dua bulanan ini kenal Bu'e lagi. Nah, siang itu Bu'e mau nemenin Ebo Dyah meliput dan makan siang ke Soto Geprak Mbah Djo. Ini merupakan tugas liputan dari TravelingYuk dalam rangka penulisan buku dengan konsep kuliner legendaris kota Malang.

Singkat cerita setelah browsing di Google untuk cek posisi maps Soto Geprak Mbah Djo dan sudah bolak balik sepanjang jalan Letjend S Parman, tapi tidak ketemu juga alamatnya warung soto tersebut. Mobil yang Ebo Dyah kemudikan berjalan pelan menembus derasnya hujan. Setelah browsing lagi mendapat info kalau Soto Geprak Mbah Djo berada di jalan MT Haryono. Kemudian kami pun menuju arah MT Haryono tetapi ternyata tidak ketemu juga, sedang perut sudah keroncongan minta diisi. Akhirnya diputuskan ke Ayam Kremes Potre Koneng yang terletak di jalan Raya Dieng no 2A kota Malang. Sudah lama juga Ebo Dyah tidak berkunjung kesana.



Eh mau tahu nggak, cerita awal Ebo Dyah kenal Ayam Kremes Potre Koneng ini? Tahun 2016 dulu itu sama mbak Dhian naik motor melewati jalan Kawi dan sama-sama kelaperan cari rumah makan tapi gak ketemu yang cocok.  Padahal di jalan Kawi kan banyak yang jualan makanan tuh. Karena Ebo Dyah waktu itu baru datang dari Jakarta dan mbak Dhian dari Gresik juga dan dua-duanya males browsing, tiba-tiba kami ngelewatin Ayam Kremes Potre Koneng itu, masuk dan makan disana, eh lucu juga nih rumah makan trus makanannya juga enak. Jadi sekarang setiap ada tamu dari Jakarta pasti Ebo Dyah ajak kesana. Ada apa sih di rumah makan Ayam Kremes Potre Koneng? Yuk kita masuk yuk.



Lokasinya yang di pojokan memang gak terlalu kelihatan dari jalan raya kalau itu rumah makan. Kecuali yang sudah menjadi pelanggan tetap dan memang ada running text di depan rumah makan tersebut. Begitu kami memasuki rumah makan tersebut, mata menjadi segar karena melihat interior rumah yang dekorasi dan perabotannya kebanyakan dari barang-barang lama alias vintage.



Ada pernak penik lawas sperti televisi tabung kecil 14", cangkir-cangkir, termos air panas, pring-piring dinding, timbangan, bakul dan panci dari bahan enamel, kain-kain panjang, lampu-lampu gantung dll. Dinding yang dicat dengan warna biru, lemari kayu pintu kaca menyimpan piranti makan minum antik, kursi jengki dengan bantalan hijau menambah kuat kesan tema vintage di rumah makan itu. Asyik kan liatnya.



Kalau dari namanya yang Potre Koneng, itu bahasa Madura yang artinya Putri Kuning. Masuk ke Ayam Kremes Potre Koneng konotasinya akan makan makanan tradisional Madura. Menu yang tersedia menu ala Madura seperti ayam jepe, nasi sayur lodeh, ayam kremes, bebek dll. Cemilan seperti pisang goreng, risol daging asap, jagung keju dll. Minuman tersedia minuman panas dan dingin.


Kami memilih duduk di pojokan dan petugas datang menghampiri kami sambil membawa lembar menu. Ebo Dyah memilih menu andalan rumah makan yaitu paket nasi ayam kremes dengan sayur urap dan Bu'e memesan paket nasi udang kremes dengan sayur urap juga. Minumnya sama-sama teh hangat manis. Sambil menunggu pesanan datang kami berfoto ria di semua sudut rumah makan yang instagramable itu. Kebetulan siang itu sepi, hanya ada satu meja dengan tiga wanita. Udah berasa yang punya rumah makan deh, pepotoan pindah-pindah lokasi #eaaa


Nasi ayam kremes potre koneng

Tak lama pesanan kami pun datang. Hmm, enaknya sih makan pake tangan saja. Kami pun bergantian cuci tangan di washtafel. Sepiring porsi pesananku isinya nasi putih yang dicampur sego empog/nasi jagung, sayur urap, sambel bajak, sambel mangga muda, dadar jagung, lalap timun, peyek daun bayam dan ayam kremes. Eh peyek daun bayamnya krispi banget lho. Jarang-jarang ada rumah makan yang menyajikan menu dengan peyek daun bayam. Tapiiii sambel mangga mudanya sedikit banget. Kurang euy hehee.



Kalau isi menunya Bu'e juga sama, bedanya hanya di udang kremesnya saja. Rasanya enak semua... nendang banget deh. Hujan yang mengguyur dan perut lapar membuat mulut kami mengunyah dengan cepat. Emak-emak ini laper apa doyan ya. Ayam kremesnya empuk banget. Ebo Dyah ngunyah tulang ayam sambil mikirin kucing di rumah. Pasti kalau ada si Kunkun dan Theo pasti pada nungguin dapet jatah dari Ebo Dyah hehe. Sayur urap yang terdiri dari rebusan sayur kacang panjang, tauge, kubis/kol dan parutan kelapa berbumbu sangat segar dan terasa banget kencurnya. Dadar jagungnya juga lembut dan rasanya mantul. Mantap betul. Semuanya sekali lagi, enaaak.

Selesai santap siang itu dan kami pun berpisah, karena Ebo Dyah melanjutkan perjalanan ke Swissbell in Hotel mau jemput nyak Nanda dan Bu'e lanjut belanja ke Toko Trendz. Kalian kapan nih ke rumah makan Ayam Kremes Potre Koneng. Sangat menyenangkan untuk makan dan kongkow disana




Jumat, 21 Desember 2018

Wisata Murah Meriah De Berran



Di Batu tersedia banyak tempat wisata. Mulai dari wisata kuliner, wisata edukasi, sampai
wisata air coban/air terjun. Begitu pula dengan sumber mata air. Salah satu yang bisa kita kunjungi adalah Wisata air De Berran. Yuk kita kesana yuuuk





Asal Muasal De Berran



Arti De Berran dari bahasa Jawa Beran yang berarti areal tanah yang banyak mengandung air dan lokasinya berdekatan dengan sumber mata air. Sebelum dijadikan tempat wisata, sumber air ini hanya digunakan untuk kebutuhan minum, mandi dan cuci bagi warga dusun Gondorejo dan areal sekitarnya untuk menanam selada air. Goa sumber mata air dipercantik dengan relief patung kepala harimau dengan susu payudara besar dan mangga di pinggir kolam. Alasan harimau dan mangga ini terkait dengan nama dusun Pohkepek/Gondorejo yang nama Poh diambil dari pohon poh (mangga) dan kopek (kepek) dari susu harimau. 



Fasilitas di De Berran






Hanya dengan harga tiket masuk Rp5,000 kita sudah bisa masuk kesana. Setelah parkir kendaraan dengan tarif parkir motor Rp2,000 dan mobil Rp3,000 kemudian jalan kaki dan melewati tangga menurun untuk dapat mencapai lokasi.
Selain kamar ganti, toilet, musholla dan stan makanan juga terdapat rumah panggung yang dapat disewa rombongan untuk reuni, arisan, dll.
Beberapa gazebo tersebar di pinggir kolam dapat digunakan sebagai tempat istirahat juga tempat meletakkan barang selama ditinggal berenang.  Kolam renang dengan sumber mata air alami dengan panorama indah dan menenangan yang tidak menguras dompet sudah tidak diragukan lagi.


Kolam renang sumber mata air yang menyegarkan




Kolam renang De Berran menjadikan tempat andalan ini untuk berlibur bersama keluarga.
Memiliki luas dua ribu meter persegi yang berlokasi di Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kabupaten Malang, terdapat tiga kolam renang dengan sumber air berasal dari kumpulan mata air yang berada di sekitar dusun tersebut. Pergantian air yang terus menerus dari mata air yang aman dan tidak memerlukan bahan kimia, sehingga dipastikan masih terjaga kesegaran dan kebersihannya.  Kedalaman ketiga kolam bervariasi mulai dari 80 sentimeter, 100 sentimeter dan 150 sentimeter. Satu kolam lebarnya beragam dari 50 sampai dengan 200 meter persegi. 


Disamping kolam renang dengan lingkungan sekitar yang masih alami berikut pepohonan rimbun menghijau juga gemericik sumber mata air, juga menyediakan fasilitas lengkap apalagi tiket lmurah. Jadi bagaimana, sudah cantumkan De Berran di daftar liburanmu berikutnya?

Senin, 10 Desember 2018

Eksotisnya Taman Nasional Baluran Jawa Timur





Taman Nasional Baluran yang terletak di Situbondo Jawa Timur, tempo hari saya datangi bersama suami dan teman-teman fotografernya. Perjalanan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari itu, akhirnya terlaksana jua. Kalo tertunda, wah sayang sekali. Karena momennya pas saat musim kemarau seperti saat itu. Tanggal 6 Oktober 2018 malam saya dan suami menggunakan mobil Proton Exora Bold mulai berangkat. Menghampiri rumah cak To di Sulfat, disana sudah menunggu  Cak To dan Habib keponakannya, mas Ochin, dan om William Dewata. Saya duduk di depan karena saya perempuan sendiri. Kalo acara hunting foto, saya suka ngintilin mereka hehe. 
Kondisi saat itu saya baru sehari tiba di Malang, setelah tanggal 2 - 4 Oktober 2018 saya ke Ranu Kumbolo bersama teman dari Jakarta.
Seperti biasa saya tidur selama perjalanan. Perjalanan lancar, aman, damai. Saya kalau sudah duduk di depan, kursi saya rebahkan sedikit, pake jaket rajut, kaus kaki, selimutan pake kain Bali, dan jangan lupa pake bantal kecil. Nyaman deh tidur saya, cukup untuk istirahat selama dalam perjalanan.

Perjalanan lancar jaya dari Malang menuju TN Baluran. Sekitar 7 jam perjalanan malam itu. Menjelang subuh jam 4 pagi, mobil kami memasuki pintu masuk TN Baluran. Bayar tiket masuk dulu nih. 
Harga tiket masuk dan tarif parkir hari Senin - Jumat:
  • Wisatawan domestik Rp15,000,- dan wisatawan manca negara Rp150,000,-
  • Tarif parkir untuk kendaraan roda 2 Rp2,500,- kendaraan roda 4 Rp10,000,- kendaraan roda 6 (bus) Rp50,000,-

Harga tiket masuk dan tarif parkir hari libur (tanggal merah):
  • Wisatawan domestik Rp17,500 dan wisatawan manca negara Rp225,000,-
  • Tarif parkir untuk kendaraan roda 2 Rp7,500,- kendaraan roda 4 Rp15,000,- kendaraan roda 6 (bus) Rp75,000,-
Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi masuk ke dalam, melalui jalan yang sedang diperbaiki. Kurang dari sejam kami sampai di warung. Karena hanya 1 warung yang ada disana. Kami disambut monyet-monyet yang dengan tatapan waspada mereka siap-siap menerjang pintu mobil yang terbuka untuk mencari makanan.

asyik deh monyetnya di atas mobil
Fotografer yang rencananya mau motret sunrise, batal sudah. Karena waktunya tak terkejar. Mereka segera melapisi pakaian dengan pakaian kamuflase, pakaian ala tentara, motif loreng, rumput, menutupi wajah, kepala dan kamera dengan jaring hijau. Jadi ceritanya kalo motoin binatang dari dekat, tu binatangnya gak berasa dipoto. Candid ceritanya yaaa.

suamiku in action
Ada apa sih di TN Baluran? TN Baluran dengan luas 25.000 ha, yang di dalamnya terdapat vegetasi dan satwa dilindungi seperti banteng, rusa, kijang, kancil, kerbau liar, burung merak, burung rangkong, monyet dll.
Taman nasional ini dibagi menjadi beberapa pos pengamatan. Pos di Taman Nasional ini antara lain:
·         Batangan. Di sini terdapat peninggalan sejarah berupa goa Jepangburung merak pada musim kawin (antara bulan Oktober/November) dan berkemah. Fasilitas yang ada di sini antara lain pusat informasi
·         Bekol dan Semiang. Di sini terdapat fasilitas pengamatan satwa seperti ayam hutanmerakrusakijangbantengkerbau liar, dan burung. Fasilitas yang ada di sini antara lain wisma peneliti, wisma tamu, dan menara pandang.
·         Bama, Balanan, dan Bilik. Di sini merupakan lokasi wisata bahari, lokasi memancing, menyelam/snorkeling, dan atraksi perkelahian antar rusa jantan (pada bulan Juli/Agustus) dan atraksi kawanan kera abu-abu yang memancing kepiting/rajungan dengan ekornya pada saat air laut surut.
·         Manting, dan Air Kacip. Di sini terdapat sumber air yang tidak pernah kering sepanjang tahun, dan merupakan habitat macan tutul.
·         Popongan, Sejile, Sirontoh, Kalitopo. Di sini terdapat fasilitas untuk naik sampan di laut yang tenang, melihat berbagai jenis ikan hias, dan lokasi pengamatan burung migran.
·         Curah Tangis. Di sini terdapat fasilitas untuk kegiatan panjat tebing dengan tinggi 10-30 meter, dan kemiringan sampai 85%.







Kami ke TN Baluran hanya ke Savana Bekol dan Pantai Bama saja.
Ketika kami mau mencari penginapan di Bekol, eh penginapan di dalam ternyata sudah penuh, sudah full dibooking karyawan GoJek. Di sekitar warung terdapat parkiran, toilet, mushola, kantor TN Baluran dll. Suami, mas Ochin dan om William sudah menyebar berkeliling foto. Saya ikut cak To dan Habib keponakannya masuk warung untuk sarapan. Pagi itu segelas teh manis dan bakwan jagung yang kubawa dari Malang, menjadi sarapanku. Kalo Cak To dan Habib sarapan nasi lalap. Kenyang sudah, kami mulai berjalan ke padang Savana. Oktober saat itu di TN Baluran sangat kering, musim hujan belum mulai. Sehingga padang savana saat itu seperti padang savana yang ada di Afrika. Keren kan. Saya berjalan kaki menggunakan sepatu gunung, karena memang medan penuh dengan tanah kering dan akar belukar. Di tangan saya dan Habib, sudah siap ketapel tanpa isi, buat nakut-nakutin monyet. Padahal sih monyet yang takut sama kita haaa.

Savana Bekol, ini udah ganti sepatu haha
Indah sekali pemandangannya, walaupun jalan terus menyusuri padang savana yang luas, melihat dari jauh segerombolan rusa, banteng yang sedang merumput dan minum air. Ada burung merak dengan cantiknya mengembangkan ekornya. Tak lupa saya dan Habib sesi foto dengan Cak To. Eksotis banget pemandangannya. Berasa di padang Savana di Afrika lho. Sini yuuuk


jepretan mas Ochin

jepretan mas Ochin

jepretan suami

Setelah lelah berkeliling, kami kembali lagi ke mobil. Saya sih ganti alas kaki dan celana. Kemudian masuk ke warung lagi menunggu teman-teman fotografer yang lain. Makanan dan minuman di warung itu tidak mahal. Makan berenam selalu bayar dengan selembar uang seratus ribu dan masih ada susuk atau kembalian. Padahal udah makan nasi lalap dengan lauk ikan, ayam, cemilan, kopi, sayur asem, kerupuk dll.
Kemudian kami masuk mobil dan mulai berangkat menuju pantai Bama. Disana temen-temen fotografer pada foto-foto dan tidur siang. Wah disini monyetnya lebih seru lagi. Tidak malu-malu untuk usil dan menjarah tas isi makanan para pengunjung. Hehe.
Beda dengan sebelumnya pemandangan di Savana Bekol yang kering, di pantai Bama ini mata dimanjakan dengan indahnya pantai dan laut. Dengan air yang jernih biru, rasanya mau mandi saja disana tapi kok malu ya. Soalnya sepi dan panas pula. Hoho.. Akhirnya berleha-leha duduk-duduk saja di kursi potongan kayu-kayu yang disusun jadi meja dan kursi yang banyak bertebaran di pantai Bama, saya menunggu teman fotografer. Ada yang mancing, ada yang hunting foto, ada yang tidur. Saya gak bisa tidur sama sekali. Hanya duduk, main ayunan, jalan-jalan di pantai, jalan-jalan melihat mangrove, juga nontonin monyet cari kutu hihi.



mangrove pantai Bama






pantai Bama

Menjelang sore kami kembali lagi ke Savana Bekol. Teman fotografer rencana ambil sunset disana. Dan saya duduk saja menunggui mereka selesai. Sambil ngobrol dengan supir travel dari Banyuwangi yang katanya saat itu sedang membawa tamu dari Bali. Supir dan tamu janjian di Ketapang kemudian melakukan trip sesuai permintaan tamunya.
Ketika saya aplot foto-foto di Facebook, Ira teman SMA yang seorang dokter kandungan di Situbondo melihat postingan saya. Alhamdulillah malah ditawari menginap di rumahnya. Rejeki yaaah. Setelah acara foto sunset yang berakhir sampai malam jam 19, saya diantar ke rumah Ira. Kalo suami dan fotografer yang lainnya nginep di rumah teman suami yang ada di Situbondo juga. Ahhh, dasar musafir cari penginapan gratissss.

sunset di Savana Bekol, jepretan suamiku

Besoknya saya diajak Ira ke pantai Pasir Putih Situbondo. Laut tampak tenang, cerah, sedamai hatiku menikmati ciptaanNya. Sambil menemani putra bungsunya Ira berenang di poantai, kami menikmati sate ayam. Daging ayamnya kecil, kalo Ira bilangnya sate laler haaa.





Yang saya dengar rombongan suami dan fotografer, subuh mereka foto sunrise di pantai Pasir Putih, Akhirnya terbayarkan juga mereka untuk foto sunrise.


sunrise di pantai Pasir Putih, jepretan mas Ochin




Terima kasih untuk dokter Ira yang sudah mau direpoti. Saya dapat tidur nyenyak di istananya dokter Ira hehe. Dan siang itu rombongan suami menjemput saya di pantai Pasir Putih untuk kembali ke kota Malang.


jepretanku di pantai Pasir Putih Situbondo
Indonesia terlalu indah untuk dilewatkan ketika liburan datang yaa. Mari jelajahi Indonesia




Jumat, 17 Februari 2017

Hunting Foto Sego Empok Community di Hotel Padi City Resort kota Malang



Haiii..

Tanggal 12 Februari 2017 lalu di hotel Padi City kota Malang, rame-reme kumpul niiy.
Aku diundang om Suprapto dari Sego Empok Community (SEC), komunitas fotografer SEC kota Malang, membantunya di event hari Minggu. Diminta menjadi talent sebagai nonik Belanda, beberapa hari kemudian dishare story board-nya. Seru juga lho.. aku diminta ajak Dinda yang berperan sebagai anak pribumi. Gampang kalo baju Dinda pake kebaya dan jarit trus kepang 2. 



Mikr-mikir gimana ceritanya ni rambutku diumpetin, ya udah, kudu pake wig blonde lha yaw. Kalo baju pas bener aku punya baju bekas akad nikah warna putih kan pas bener tuh. Kalo sepatu gak kupikirin, karena gaun panjang gak bakal keliatan juga sepatuku, aku cuman pake stocking dan sarung tangan putih.



Pagi-pagi hari Minggu sudah dandan dan pake wig dan cuzzz langsung ke hotel. Lokasi masih persiapan, ada om Suprapto, om Agus, yang langsung ngeh sama aku, ada mba Imelda, mba Yayuk, mas Bean, om Assaifi yang gak ngeh itu aku huhu. Ada banyak talent, tua dan muda, eeh ada mbak Dyananggra model yang pernah kumake up tempo hari. Banyak fotografer seperti mas Apri, om Eddy, Om Chilmi, Mas Adam, om Yok, mas Nanang, mas Ogan Samnago, mas Dalbo, mas Ochin, mba Sri Utami, dll.





  




aku beradegan menerima uang yang mau ditabung oleh mba Dyan, Dinda duduk di bawah hihiii

Seru banget hari itu. Dan terakhir mendadak atau memang sudah rencana om Suprapto dan mas Apri, ada acara foto underwater. 
Yeayyy.. kapan lagi dot com ini maaah.. 

Nah ini yang repot, gak bawa baju dalem cadangan, jadi aku, mba Dyananggra copot2 daleman dulu lha yaw.. hahaaa trus pake ikat pinggang yang ada pemberatnya. Tapi gak kliatan kan kita gak pake daleman hihiiiii.. BTW wig awet nangkring di kepala, kupikir bakal copot ternyata nggak tuuuh. Make up juga, gak luntur, sapa dulu dong.

dengan tante Septi

Untungnya, kelar poto underwater, boleh berbilas di kamar hotelnya keluarga om Agus, makasiy untuk tante Septi yang udah minjemin handuk wangi. Barakallah ya Tante. 




aku dan Dinda anakku


Terima kasih untuk suami yang sudah mengijinkan aku ikut acara SEC, terima kasih om Suprapto yang sudah ajak, terima kasih untuk semua tim di SEC, yang sudah poto2 aku dan kuambil potonya untuk kushare di blogku.  Sampai berjumpa lagi di lain sesi foto berikutnya :)





Jumat, 16 Desember 2016

Me Time kali ini

Haiiiii...
Lama tak bersua dengan kalian.. Aku mau cerita soal me time-ku hari ini. Sebetulnya badanku udah 2 minggu ini kena bapil.. Walau bapil sempet sih jalan-jalan sama temen, keluarga, tapi hari ini jalan sendiri sajalah.

Sebetulnya me time itu apa siy?
Yang dimaksud sebagai “Me-Time” adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Sebetulnya sih, me time-ku itu kulakukan disela-sela rutinitasku juga. Jadi ceritanya, setelah anter anak ke sekolah dan beberes rumah, kemudian aku minum obat pagi, vitamin dan obat batuk yang bikin ngantuk ituh (emang sengaja banget minum) dan akhirnya aku tertidur. Di dalam tidur itu rasa-rasanya ada yang mencet-mencet hidungku, buka-buka mataku, kayaknya suamiku deh, tapi ni mata berat banget. Pokoknya ngawur deh pagi ini, suamiku berangkat kantor aku masih tidur, pissss ya Paaaa ✌

Jadi bener tuh, kalau tidur sebagai me time tidak melakukan apa-apa. Itu sih emang kebo yah😋

Daaan,, aku bangun, siap-siap jalan. Sendiri nyetirin mobilio putih, aku ke arah Pasar Besar di Malang, karena rada susah parkir ke toko Raya, aku parkir di parkiran eks Mitra I, trus naik becak. Ih ribet banget yah, padahal sih emang pingin naik becak aja ke toko Raya. Hahahaaaa



Ke Toko Raya di Malang, toko ini adalah toko kosmetik paling lengkap di kota Malang. Disini aku repurchase beberapa produk kosmetik buat perang, seperti maskara, foundation liquid, dll.
Oh ya, cerita belanja ada di blogku satu lagi yah, bisa klik yaaah.. judulnya Beauty Haul December 2016.


Belanja di toko Raya abis 800 ribu lebih, hiksss😑 Dangdut banget deh belanjaannya. Hohohoho

Abis dari situ, balik lagi naik becak ke parkiran trus cuzzz ke Gramedia deket toko Oen. Tapiiii... seperti biasa aku salah jalan dan kali ini memang tidak pasang waze.. aku nebak-nebak aja jalannya, belok kiri trus belok kiri masuk ke jalan Arjuno trus oooh,, nembus jalan Kawi, yo wes sudah paham kalo begetuh, tetep aja parkirnya di Telkom setelah toko Oen. Di Gramedia sih gak lama juga, tujuannya cuman beli novel Tere Liye. Kebanyakan judul lama.


Dari situ langsung cuzzz pulang, jam sudah menunjukkan jam 3-an. Sampe rumah nyapu jalan dan parkiran yang penuh dengan rontokan jambu tetangga depan kemudian aku mandi langsung tidur lagi, bobo ciaaaaang. 
Maklum ye,, body lagi gak enak, eike kudu banyak istirahat neh.

Bangun-bangun, jam 5-an langsung maem, dengan sambel mangga buatanku sendiri. Hari ini masak nggak? Ya nggak doooong heheheeeee

Ini me time-ku... gimana me-time kalian... cerita dong 😊